Medan, SatuNusa News – Kota Medan dan sejumlah wilayah di Sumatera Utara kembali diselimuti kabut asap pekat pada Jumat hingga Sabtu (24/10/2026). Bencana ekologis akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) ini menyebabkan kualitas udara di ibu kota provinsi tersebut anjlok ke level “Tidak Sehat”, memicu kekhawatiran meluasnya gangguan kesehatan di tengah masyarakat.
Berdasarkan data pantauan kualitas udara IQAir pada Jumat (23/10/2026), Indeks Kualitas Udara (AQI) di Kota Medan menyentuh angka 161 atau masuk dalam kategori zona merah. Tingkat konsentrasi partikel halus atau PM2.5 tercatat melonjak hingga 70,1 µg/m3, jauh di atas ambang batas aman yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pekatnya kabut asap tidak hanya mengancam kesehatan pernapasan, tetapi juga berdampak langsung pada jarak pandang. Jarak pandang di kawasan perkotaan Medan dilaporkan menyusut hingga kisaran 1-3 kilometer. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), di mana kabut asap mengganggu pandangan para pengendara yang melintas di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) rute Medan–Tebingtinggi. Sejumlah warga Medan mulai mengeluhkan dampak langsung berupa mata yang terasa perih dan napas yang sesak saat beraktivitas di luar ruangan.
Kabut Asap Kiriman dari Sumbagsel dan Kalimantan
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan mengonfirmasi bahwa kabut asap yang mengepung Medan merupakan asap kiriman. “Menurut pantauan BMKG, kabut asap ini berasal dari titik api di wilayah Sumatera bagian Selatan dan Kalimantan yang terbawa oleh arah angin menuju wilayah Sumatera Utara,” jelas perwakilan BMKG dalam keterangannya.
Merespons kondisi ini, pihak berwenang mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat. Warga, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma, diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Penggunaan masker penutup hidung dan mulut saat harus beraktivitas di luar ruangan kini kembali menjadi kewajiban untuk meminimalisasi paparan partikel beracun.
Sebelumnya, sejak pertengahan Oktober, kabut asap karhutla telah memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Medan, dengan laporan mencapai lebih dari 2.900 kasus. Pemerintah Kota Medan melalui Wali Kota Rico Tri Putra Bayu Waas telah mengambil langkah preventif dengan mendistribusikan ribuan masker gratis dan menyiagakan seluruh fasilitas kesehatan. Pihak sekolah juga diinstruksikan untuk memantau ketat kondisi siswa yang rentan mengalami batuk atau iritasi mata, serta diizinkan mengambil langkah penanganan awal jika diperlukan.
Kondisi udara diprediksi masih akan fluktuatif bergantung pada arah angin dan intensitas penanganan karhutla di daerah asal titik api. Masyarakat diharapkan terus memantau informasi terkini dari BMKG dan pemerintah daerah terkait perkembangan kualitas udara di wilayah masing-masing.
